SURAT TAK  BERSEGEL

Fajar Fitrianto

 

Kembali aku terima,

Satu surat tak bernyawa.

 

Aku pandangi satupersatu,

Surat-surat itu.

 

Ku buka dan ku baca,

Surat-surat tak  bersuara.

 

Ku amati tanda-tandanya,

Surat bekas sepertiya.

 

Aku lihat dan aku amati sampulnya,

Tak bersegel rupanya.

 

Aku lihat tulisnnya,

Banyak coretan ternyata.

 

Aku pikir dan aku renungkan,

Segala tanda yang membingungkan.

 

Tanda yang aneh,

Benar-benar aneh

 

Sekejab pikiran kotor pun bermunculan,

Surat-surat itu dikirim sebagai pelampiasan.

 

Namun otak kananku berkata,

Coba diamati lagi semua tandanya.

 

Mata kiriku mellihat tanda,

Detektif  tulang belakang menerima impulsnya.

 

Ia kirimkan lagi ke saksi hati,

Direspons dan dikirim kembali.

 

Sang hakim otak kanan menerima,

Bersama juru kunci otak kiri mendiskusikannya.

 

Sang hakim kebingungan,

Lantas mengirimkan mata-mata mata kanan.

 

Diamati dilihatnya,

Surat-surat itu dianalisanya.

 

Ditemukan sebuah bukti,

Bukti dikirim dan direspons kembali.

 

Sang hakim otak kanan menerima,

Bersama juru kunci otak kiri mendiskusikannya.

 

Dihasilkannya sebuah keputusan,

Akan segera  disampaikan.

 

“Surat-surat itu adalah surat bekas dari seseorang,

Dan kau adalah pelampiasannya,

Bukti fakta mengatakan,

Surat-surat itu tak bersegel,

Surat-surat itu menggunakan sampul suram,

Kertas suratnya tipis dan buram,

Menggunakan pensil untuk menuliskan,

Menggunakan ludah untuk menghapuskan,

Terdapat banyak coretan dan penghapusan,

Beberapa bagian surat itu sobek.”

 

Mata-mata mata kanan menyaksikan,

Tanda-tanda diungkapkan.

 

“Kata-kata maaf dalam surat itu terdapat tiga,

Maaf pertama dilihat dari penghapusan,

Dilanjutkan dengan kalimat ‘Aku sudah tidak perawan’,

Maaf kedua dlilihat dari pencoretan,

Dilanjutkan dengan kalimat ‘Aku sangat menyesali’,

Maaf ketiga dilihat dari tulisan,

Diawali dengan  kata ‘sekian’,”

 

Simpulan itu dicatat disampaikan otak kiri,

Kepada seluruh jajaran yang berdireksi,

 

Mata kanan mata kiri,

Tulang belakang hati.

 

Mereka semua sepakat,

“Surat itu tak layak diterima, kecuali kalau ia jujur sebelumnya.”

 

 

 

Limpakuwus, 24 Oktober 2018

Hits: 5

Fajar Fitrianto
News Reporter