Film ini persembahan khusus dari KSB Panumbang Kecamatan Sumbang, diproduksi langsung oleh team Rekam Unggah bersama seluruh jajaran KSB dalam rangka Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN) 26 April tahun 2019, Bung Dana sebagai Sutradara film ini berharap nantinya Warga lebih bisa meningkatkan kesiapsiagaannya dalam menghadapi bencana erupsi Gunung Slamet, Masyarakat sekitar G.Slamet diharapkan bisa meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.

 

 

DOWNLOAD

 

BERITA:

Warga Limpakuwus Gelar Simulasi Erupsi Gunung Slamet

Editor: Satmoko Budi Santoso  

BANYUMAS – Warga Desa Limpakuwus, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas berbondong-bondong berlarian dengan penuh rasa panik.

Sebagian ada yang menggunakan masker, ada pula yang mengenakan penutup wajah seadanya. Sambil membawa barang-barang mereka terus berlarian diiringi suara sirine serta tabuhan kentongan.

Gunung Slamet yang hanya berjarak kurang lebih 8 kilometer dari desa mereka menyemburkan abu vulkanik terus-menerus. Demi keamanan, pihak desa memberitahukan agar warga diminta mengungsi untuk sementara waktu.

Beruntung, kepanikan tersebut hanya terjadi dalam simulasi penanggulangan bencana erupsi Gunung Slamet yang berlangsung di Lapangan Desa Limpakuwus. Simulasi tersebut dilaksanakan, untuk mengingatkan kembali kepada warga lereng Gunung Slamet tentang tata cara dan upaya evakuasi.

“Sudah lama Gunung Slamet tidak erupsi, tetapi kejadian alam ataupun bencana tidak ada yang bisa memprediksi, karena itu kita lakukan simulasi. Supaya warga ingat bagaimana mereka harus menyelamatkan diri saat terjadi erupsi. Kemudian jalur evakuasi melalui mana saja dan sebagainya,” kata Koordinator Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banyumas, Kusworo, Minggu (28/4/2019).

Koordinator Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas, Kusworo. Foto: Hermiana E. Effendi

Simulasi melibatkan warga dua RW terdekat dengan Gunung Slamet di Desa Limpakuwus. Mereka juga pernah terkena dampak erupsi Gunung Slamet tahun 2014 lalu.

Saat itu Gunung Slamet terus menyemburkan pasir dan hujan pasir bahkan sampai radius yang cukup jauh.

Suara dentuman dari letusan gunung tertinggi di Jawa Tengah tersebut bahkan sampai berulang kali.

Dalam simulasi, warga juga diingatkan kembali untuk membunyikan kentongan sebagai tanda bahaya dan peringatan agar warga segera meninggalkan rumah. Warga berkumpul pada titik aman terdekat sambil menunggu bantuan untuk evakuasi.

Beberapa saat kemudian, para relawan penanggulangan bencana datang dengan membawa mobil, secara bertahap warga mulai dievakuasi turun dari wilayah Baturaden.

Beberapa warga yang mengalami sesak nafas serta mengalami luka akibat berdesakan saat mengungsi, dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Para relawan juga langsung mendirikan dapur umum untuk menyiapkan makanan bagi para pengungsi. Tenaga medis mulai didatangkan untuk memberikan pengobatan serta membagikan masker bagi para pengungsi, terutama untuk anak-anak dan orang tua.

“Yang berkali-kali kita ingatkan adalah, dalam mengungsi, warga diimbau untuk tidak membawa barang bawaan terlalu banyak. Barang-barang penting saja yang dibawa dan jangan lupa rumah yang ditinggalkan untuk dikunci,” kata Kusworo.

Simulasi ini melibatkan juga relawan penanggulangan bencana dari Taruna Siaga Bencana (Tagana) Banyumas, RAPI, Serayu Rescue, Linmas Kecamatan Sumbang dan Kembaran, Koramil, Puskesmas Sumbang dan lain-lain.

 

Sumber berita: https://www.cendananews.com/2019/04/warga-limpakuwus-gelar-simulasi-erupsi-gunung-slamet.html

 

Hits: 51

Fajar Fitrianto
News Reporter