TUHAN, AKU MATI

(Fajar Fitrianto – J1B015006)

 

 

Fajar, begitulah orang memanggilku. Orang yang hitam dekil tapi tinggi besar dan cerdas. Waktu aku masih kecil, aku putih bersih. Beda dengan sekarang. Haha.. Maklum sudah semakin tua. Nambah umur nambah dekil. Kurang perawatan.

 

Di masa kecilku, aku sungguh sangat bahagia. Aku jadi idaman anak perempuan sesekolah dan sekampung. Hebatkan aku? Salah satu anak perempuan yang mengidamkanku ialah Rani, tetanggaku. Rumahnya hanya berjarak 20 meteran dari rumahku. Rani waktu kecil itu hitam dekil, kucel bin kumel. Tapi dia itu orangnya cerewet dan periang. Aku sangat terhibur bermain bersamanya. Aku merasa sangat nyaman dengannya. Pokoknya aku sangat bahagia bisa bersamanya. Bahkan niih.. kita pernah mandi bareng waktu kecil.. hehe mau bagaimana lagi? Namanya juga anak-anak. Bermain ini itu gak punya malu, Rani bermain mobil-mobilanku dan aku bermain bonekanya Rani. Haha jadi keinget deh main-mainan itu.

 

Di tengah kebahagiaan kami, tiba-tiba Ayah Rani terjatuh dari kursi rodanya. Ayah Rani mengidap penyakit strooke ringan. Namun entah kenapa tiba-tiba tidak sadarkan  diri. Kami pun panik dan segera membawanya ke rumah sakit. Setelah sekitar dua jam pemeriksaan, ayah Rani diketahui terkena serangan jantung.

 

“Ayahku kenapa dok?”

“Ayahmu tadi terkena serangan jantung. Syukur keluarga sigap sehingga nyawa ayahmu bisa diselamatkan.”

“Terus bagaimana dok? Apa ayahku bisa dibawa pulang dok?”

“Untuk sementara belum dibolehkan untuk pulang. Ayahmu masih sangat membutuhkan peratan intensif.   Jadi untuk sementara tidak diijinkan untuk pulang.”

 

Ruang  tunggupun menjadi mencekam dan dramatis. Ibu dan Rani semua panik. Tapi mereka berusahaa tenang dan terus berdoa.

 

Waktu menunjukan pukul 21.30. malam itu menjadi lebih mencekam lagi. Bukan karena perihal tadi, tapi kini suara alat sensoris detak jatung berbunyi cepat yang menandakan ada sesuatu.

 

“Sus! Suster!”

“Iya kenapa?”

“Tolong  sus! Suami saya kenapa. Tiba-tiba suaranya berbunyi cepat. Tolong sus!”

“Sabar bu, sabar!”

 

Suster pun memanggil dokter.

 

“Dok. Suami saya kenapa dok.”

”Sabar bu! Saya  akan  periksa suami ibu.”

 

Dokter memasuki ruangan. Dan  mencoba menolongnya. Upaya dokter kini sia-sia. Tepat pukul 22.00, Ayah Rani dinyatakan sudah meninggal dunia.

 

“Maaf  ya bu!”

“Kenapa  dok?  Kenapa dengan suami  saya?”

“Sebelumnya maaf ya bu! Kami telah berusaha  untuk menyelamatkan suami ibu. Tapi kami gagal.”

“Maksud dokter, suami saya meninggal dok?”

“Iya bu.”

 

Rani dan ibunya, menghampiri jenazah ayahnya Rani. Rani  dan ibunya tampak sangat sedih. Mereka menangis tapi tidak sampai meratapi atau juga menangis  yang berlebihan. Aku  yang sedari tadi siang menemani Rani, turut bersedih. Karena ayah Rani sangat baik kepadaku. Aku pun meneteskan air mata tanpa aku sadari. Aku mencoba untuk menghibur temanku yang satu ini.

 

“Dialah yang setiap hari bermain denganku. Kini dia sedang berduka, saatnya aku harus menghiburnyaKataku dalam hati.

 

“Rani yang sabar yah!?”

“Tapi….??”

“Tapi apa Rani?”

“Ayahku sudah meninggal.”

“Iya. Tapi kan nanti kamu bisa ketemu ayah di surga nanti. Kamu ingin kan ketemu ayah di surga?”

“Iya.. Aku sayang banget sama ayahku.”

“Bener kata Fajar. Denger baik-baik Rani, semua yang hidup pasti akan mati. Ayah, Ibu, kamu, Fajar semua juga akan mati.”

 

Semua telah berlalu. Sebulan setelah Ayah Rani meninggal, Rani dan ibunya merantau keluar daerah. Mereka tidak mengatakan mau merantau kemana, tapi mereka bilang hendak merantau ke luar daerah.

 

“Fajar, aku mau pamitan sama kamu.”

“Kamu mau kemana, Ran? Kok pamitan?”

“Aku sama ibuku mau merantau keluar Jar.”

“Keluar mana Ran?”

“Aku juga tidak tahu.”

“Yang bener Ran!”

“Bener.”

“Ya udah, disana semoga kamu selamat yah!”

“Iya, terima kasih ya Jar.”

 

Rani dan ibunya pun pergi meninggalkan kampung tercinta. Hari-hariku berubah menjadi membosankan. Sepi tiada bermain bersama Rani. Anak yang setiap hari bermain bersamaku kini sudah merantau entah kemana. Perlahan demi perlahan anak perempuan yang mengidamkanku menjauhiku. Aku bersedih Rani sudah tidak bermain bersamaku lagi. Sebenarnya aku ingin sekali menulis surat untuknya. Tapi aku tidak tahu mau ditujukan kemana suratnya. Aku hanya menunggu kiriman surat dari Rani baru bisa aku membalasnya. Tapi sampai setahun tidak ada surat darinya. Akupun hanya menulisnya saja.

 

Dua tahun kini, masih juga belum ada kiriman surat darinya. Aku jadi kangen dengan keriangannya. Dengan kecerewetanya.

 

Tahun demi tahun aku jalani terus sambil menunggu kiriman surat darinya. Baru setelah sepuluh tahun Rani mengirimkan surat untukku. Akupun membalasnya. Kini aku tahu di mana dia merantau bersama ibunya. Katanya dia baik-baik saja, dia merantau ke negeri seberang. Bukit Panjang, Singapura. Dua tahun lagi dia akan pulang kampung. Pulang ke kampung tercinta.

 

“Rani, aku tunggu kepulanganmu ke kampung tercinta. Nanti kita main bersama lagi ya Ran? ….” kataku dalam surat balasanku. Aku kirimkan ke alamat yang tertera di surat yang Rani kirim. Tapi setelah sekitar sebulan suratku belum juga dibalas juga. Setahun belum juga dibalas.

 

“Rani sibuk apa yah? Apa suratku  belum sampai?” Kataku dalam hati.

 

Dua bulan setelah itu, aku lulus dari sekolah menengah atas dengan nilai terbaik tepat di usiaku yang ke tujuh belas tahun. Dan akupun melanjutkan sekolahku ke jenjang yang lebih tinggi. Aku melanjutkan di salah satu universitas terkemuka di kotaku. Aku mengambil jurusan Sastra Indonesia di kampus budaya. Mengapa aku memilih sastra daripada teknik padahal aku adalah lulusan IPA? Karena aku memang suka menulis dan masa depanku adalah di bagian penulisan. Tapi kata orang, aku ini salah jurusan. Katanya aku lebih cocok  masuk jurusan pertanian karena aku katanya lebih basic dipertanian. Katanya lagi, aku lebih cocok masuk jurusan peternakan karena ditempatku lebih banyak sektor peternakan. Selain itu juga ada yang mengatakan aku lebih layak masuk MIPA daripada sastra karena aku nilai IPA sangat bagus daripada Sastra.

 

Diantara kesibukanku kuliah, diantara perjuanganku menjalani UAS semester satu, Rani pulang ke kampung halaman. Aku harus seneng atau sedih. Atau aku harus kedua-duanya? Di hari terakhirku UAS, aku sempatkan pulang untuk menemui Rani, kawanku waktu kecil.

 

“Ih si gadis ingusan udah pulang?”

“Hehe… kabar kamu bagaimana di kampung?”

“Baiklah. Liat aja!”

“Ia baik, tapi sekarang kamu item ya jar?”

“Hehe.. kamu juga Ran. Dulu item ingusan kucel kumel bin dekil sekarang cantik banget.”

“Iya dong. Kan selalu perawatan. Gak kaya kamu.”

“Hehe.. Eh Ran, kamu sekarang kuliah atau kerja.”

“Kerja. Emang kenapa?”

“Gak papalah. Kan tanya.”

“Kalau kamu Jar?”

“Kuliah. Ini aku sempet-sempetin pulang cuma mau ketemu kamu.”

“Kamu mahasiswa abadi yah, Jar?”

“Hah…?? aku baru saja masuk kemarin, masa udah dibilang mahasiswa abadi?”

“Jadi kamu belum lulus?”

“Belum lah…”

“Aku  kira sudah lulus. Padahal aku saja udah lulus sarjana empat bulan lalu.”

“Wihh… hebat kamu Ran.. tapi kok bisa Ran?”

“Aku kan ikut program akselerasi Jar. Terus di kuliah aku ambil semester cepat.”

“Kamu pinter amat Ran?”

“Ya jelas lah Rani gituloh.”

“Sombong.”

“Hehe… gak jar aku gak sombong. Akukan Cuma cerewet. Mau menghibur kamu yang lagi pusing-pusingan UAS.”

“Hehe iya. Aku tahu kok, Ran.”

“Hehe….”

“Ran. Oleh-olehnya mana?”

“Besok ya Jar. Aku kasih pasti.”

“Hehe. Iya tenang aja. Eh Ran, kenapa suratku yang aku kirim itu gak dibales?”

“Emang kamu kirim surat Jar? Perasaan gak ada deh.”

“Iya aku bales sumpah.”

”Tapi gak ada yang masuk.”

“Yah….:( “

 

Aku dan Rani melanjutkan pembicaraannya hingga larut malam. Besoknya aku hari  terakhir UAS tapi ujian baru akan dimulai pukul dua siang. Jadi pagi kosong. Akupun sengaja berangkat lebih awal sengaja hanya mau bertemu dan melanjutkan pembicaraan yang kemarin dengan Rani.

 

“Assalamu’alaikum… Ran!”

“Iya bentar.” “Eh Fajar. Sini masuk Jar.!”

“Iya ini aku Fajar.”

“Ada apa Jar?”

“Gak kok. Aku mau minta yang kemarin. Hehe.”

“Masih inget aja kamu, Jar.”

“Inget dong…”

“Sini Jar, masuk ke kamarku sebentar. Nanti aku kasih oleh-olehnya sekalian mau curhat sekalian.”

“Ah gaklah Ran. Aku gak mau masuk kamar perawan. Nanti si aku dituduh ngapa-apain kamu.”

“Gak kok.. santai aja Jar.”

“Tapi ibumu?”

“Udah gak apa-apa. Lagian kan aku mau cerita.”

“Iya deh.”

 

Akupun ikut masuk ke kamarnya Rani. Lalu Rani menyodorkan laptop dan kameranya kepadaku.

 

“Ran. Pintunya jangan ditutup yah Ran!”

“Oke deh…” “Jar liat karyaku nih Jar. Sambil kamu dengerin curhatanku. Nanti kalau aku sudah selesai cerita aku bakal kasih oleh-oleh.”

 

Akupun mendengarkan curhatnya dengan melihat foto-foto karyanya.

 

“Bagus sekali jepretan anak ini.” Takjubku dalam hati.

 

Curhatanya luntang-lantung tidak jelas. Tapi intinya satu, dia bercerita tentang dirinya selama hidup di Singapura. Sambil melihat slideshow foto jepretan Rani, tiba-tiba aku menemukan beberapa foto pribadi Rani yang tidak sengaja aku buka karena aku meng-slideshow-nya secara full disk.

 

“Ran. Ini foto apa maksudnya?”

“Foto yang mana Jar?”

“Ini lihat sendiri.”

“OH MY GOD.” “Maaf Jar. Ini bukan foto apa-apa.”

“Eh Ran! Jujur aja Ran!!”

“Bukan apa-apa kok.”

“Bukan apa-apa kok di kamar sama cowok. Lepas baju lagi.”

“Jar. Sebenarnya aku mau cerita tapi aku malu.”

“Udah cerita aja Ran.”

“Tapi jangan cerita sama ibuku yah!”

“Iya Ran. Tenang aja.!”

“Jar. Sebenernya aku lagi hamil Jar. Baru dua bulan.”

“Hah… apa??”

“Iya Jar, aku serius.”

“Sama cowok yang ada di foto itu?’

“Iya Jar.”

“Terus bagaimana? Kamu udah nikah kah di Singapura?”

“Belumlah Jar. Dia gak mau tanggung jawab jar. Tolong aku lah, Jar.!”

“Tolong apa? Itu kan perbuatan kamu sama cowok itu.”

“Tolonglah! Plis!”

“Iya deh. Tapi apa?”

“Kamu yang tanggung jawab ya Jar?”

“Apa?!!”

“Kamu yang tanggung jawab ya, Jar!”

“Rani!!!”

“Plis  Jar!”

“Aku gak bisa tolong kamu untuk kali ini Ran!”

“Plis!!!!”

“Aku gak bisa RANI!!”

“Pliss!”

“Rani! Kenapa kamu suruh aku yang tanggung jawab?”

“Karena kamu sahabtku. Ibuku sudah menganggap kamu sebagai anaknya. Pasti kamu gak bakal dimarahi.”

“Gak!!”

“Pliss!!”

 

Aku pergi meninggalkan kamar Rani dengan Marahnya. Tapi kemudian ibunya Rani pulang dan menjumpaiku keluar dari kamar Rani. Aku tidak berkata apapun tanpa pamit atau apapun. Aku pergi langsung ke kampus, tapi padahal jam baru pukul 11.00. Aku mengambil gadgetku dari tas dan aku duduk di gazebo kampus, dan langsung membuka blogku dan meng-update postingan baru. Aku memposting tentang curahan hatiku hari ini di kamar Rani pagi ini.

 

Kenapa aku dimintai tolong untuk tanggung jawab. Aku temannya kecil. Tapi kenapa aku sekarang dimintai tanggung jawab Rani yang hamil dengan cowok Singapura?”

 

“Saat aku kecil, aku tak pernah megang-megang Rani. Paling cuma tangannya, itupun juga waktu kecil. Masa iya sekarang aku harus bertanggungjawab Rani hamil.”

 

“Jangan-jangan tadi pagi sekenario Rani untuk membuatku bertanggung jawab?

 

“Jangan-jangan…… Ahhh!!!”

 

“Udahlah…. Buat apa aku mikir ini. Buat aku stres saja.”

 

Aku akhirnya menyelesaikan postinganku tepat jam setengah dua. Akupun memposting curhatan tadi. Hari ini aku membagikan lebih dari 16 postingan dan postingan terakhirku adalah curahan hatiku. Setelah itu akupun pergi ke kelas dan mempersiapkan UAS hari ini.

 

UAS hari ini tidak begitu sulit, aku menyelesaikannya dengan waktu yang cukup cepat. Hanya dua puluh menit saja, dan akupun keluar dan aku kembali ke gazebo untuk sekedar mengoneksikan internet dan membuka blog untuk mempreviewnya.  Aku merasa tidak ingin pulang. Aku emosi sumpah. Emosi dan bingung mau apa.

 

Jam kini menjunjukan pukul 16.00. Aku harus pulang. Dan akrhirnya aku pulang ke rumah. Tapi, di rumahku sudah ada Rani dan ibunya yang menungguku sedari tadi siang. Entah apa yang sedang mereka bicarakan. Aku bablas saja ke kamar tanpa tengok kanan atau kiri tak peduli siapa yang menyapa. Itu karena aku emosi dengan Rani yang memintaku untuk bertanggungjawab atas kehamilannya.

 

Dari luar ada suara keras bernada sedikit marah memaggilku. Aku abaikan terus hingga suara itu mendekat. Aku tahu suara itu adalah suara ibuku. Tapi aku tetap saja acuh. Kemudian suara Rani juga memanggilku dan mendekati kamarku. Aku tetap saja acuh dengan aku memainkan permainan di gadgetku. Pintu kamarku digedor-gedor dan tetap saja aku acuh.

 

“Jar…!!! keluar!!”

“……..”

“Keluar!!”

“……..”

“Ibu mau bicara sama kamu.”

“…….”

“Fajar keluar!”

“…….”

“Mas Fajar keluar. Ini Rani.”

“……..”

‘”Keluar. Plis!!”

“……”

 “FAJAR!!!!”

“…….”

 

Akhirnya aku keluar setelah sekiranya emosi sudah mereda dan mereka cape marah-marah tidak jelas. Aku keluar dan menemui mereka.

 

“Ada apa sih panggil aku?”

“Kamu tadi ngapain di kamar Rani?”

“Haahhh?”

“Jangan sok kaget!”

“Sumpah aku gak ngapa-apain.”

“Gak ngapa-apain kok di kamar?”

“Tadi Rani memintaku untuk ke kamar terus Rani curhat ke aku.”

“Bohong bu! Fajar tadi menggauliku bu. Ibu liatkan tadi mukanya pas keluar?”

“Iya Ibu liat Ran. Mukanya takut.”

“…..Yang benerlah Ran. Ceritain yang sebenarnya!”

“Bu, nahkan Fajar gak mau ngaku.”

“SSTTT….”

“Fajar! Sekarang kamu mesti tanggung jawab.”

“Plaakkss”

 

Aku pergi dan masuk kamar. Dugaanku benar. Ada sekenario yang Rani buat. Pelan-pelan aku membuka jendelaku dan melepaskan beberapa kayu yang menghalangi, dan aku kabur dari rumah lewat itu. Aku lontang-lanting tidak jelas mau kemana. Bingung marah emosi. Hingga sampailah aku ke suatu tempat yang jauh dari rumah. Yakni jurang di atas Jurug Telu Baturraden. Aku di situ merenung dan bicara sendiri terkadang juga teriak.

 

“Ya Tuhan… aku tidak berbuat apa-apa ke Rani tapi malah aku harus tanggung jawab. Aku bingung Tuhan. Apa aku harus mati Tuhan? Tuhan, Aku Mati? Tapi jika aku mati bagaimana dengan ibuku? Apakah aku mati masalah akan selesai? Aku bingung Tuhan. Aku bingung. Aku harus bertangungjawab atau aku mati Tuhan? Aku aku………..”

 

Aku tak sadarkan diri saat itu, dan ketika aku bangun, aku sudah ada di kamarku. Aku melihat ibuku, ibunya Rani dan Rani melihatiku dengan tajam. Entah apa yang terjadi padaku tadi. Yang pasti tadi ada orang yang menemukan ku tergeletak tak sadarkan diri di atas jurang kemudian membawaku ke rumah.

 

“Kamu udah sadar jar?”

“Apa yang terjadi?”

“Kamu kabur dari rumah Jar. Tapi kamu kaburnya ke rumahku. Ke kamarku.”

“Haah…????”

“Udah ngaku aja Jar!”

“Keluar! Semua keluar!”

 

Aku bangun dan mendorong semua hingga keluar. Kamarku kosong dan tinggal aku di sini. Tapi tetap saja di luar kamarku gaduh mempertanyakanku. Aku acuh dan merenung menulis catatanku agar mereka tahu apa yang terjadi sebelum aku mati.

 

“Kenapa sih semua terjadi padaku? Apakah aku harus mati?”

 

Aku mengambil sebuah botol parfum kecil yang masih terisi penuh.

 

“Tuhan Aku mati saja. Aku tak sanggup menghadapi masalah ini. Tuhan aku mati.”

 

Aku menenggak satu botol parmfum itu. Dan aku mulai keracunan dan akhirnya mati. Sedang diluar masih saja gaduh.

 

Dua hari berlalu, jazadku akhirnya membaui seisi rumah. Ibuku curiga setelah aku dua hari tidak keluar kamar, pintu terkunci, jendela juga terkunci, lampu juga gelap ditambah lagi bau yang sedikit menyengat dari kamarku. Ibuku memanggil Rani dan ibunya serta beberapa tetangga. Ibuku meminta tetangga untuk mendobrak pintu kamarku dan akhirnya menemukanku sudah tidak bernyawa.

 

Semua orang panik, Rani justru lebih panik dan pulang. Ini semua salahnya.

 

Dan akupun di kubur tepat jam tiga sore.

 

Dua hari setelahku Rani ditemukan tergantung di kamarnya. Rani bunuh diri. Dan masalah ini seolah lenyap begitu saja.

 

 

***SELESAI***

Hits: 0

Fajar Fitrianto
News Reporter