BIOGRAFI TOKOH

Michel Foucault adalah seorang tokoh filosof dan sejarawan perancis di tahun 1926-1984 yang berasosiasi dengan pergerakan strukturalis dan post-strukturalis. Dia mempunyai pengaruh yang sangat besar, tidak hanya dalam filosofi tetapi juga di ruang lingkup kemanusiaan dan bidang ilmu sosial. Karya pertamanya berjudul Kegilaan dan Ketidakbernalaran, Sejarah pada Masa Klasik, dipresentasikan untuk menempuh gelar doktoralnya di tahun 1959 di bawah bimbingan George Canguilhem. Karya tersebut kemudian diterbitkan pada tahun 1961. Pada tahun 1970 ia diangkat sebagai dosen Sejarah Sistem Pemikiran di Perancis.

Foucault lahir di Poitiers, Perancis pada tanggal 15 oktober 1926. Pada masa studinya dia terlihat seperti mempunyai gangguan psikologis namun dia mempunyai kecerdasan yang brilian. Pada usia 25 tahun dia menerima Agregasi dan pada tahun 1952 memperoleh Diploma dalam psikologi. Pada tahun 1950 dia bekerja di Rumah Sakit Jiwa dan pada tahun 1955 mengajar di Universitas Uppsala (Swedia). Secara akademik dia menjadi semakin mandiri sepanjang tahun 1960an, ketika dia memegang kursi jabatan di Collège de France, sebelum terpilih pada tahun 1969 sebagai perguruan tinggi paling bergengsi di Perancis, kemudian dia mendapatkan gelar sebagai Profesor Sejarah Sistem Pemikiran sampai dia mati. Dari tahun 1970an, Foucault sangat aktif di bidang politik. Dia adalah penemuGroupe d’information sur les prisons dan sering memprotes homosexual dan kelompok tersisih lainnya. Dia sering kali mengajar diluar Perancis, khususnya di United States, dan pada tahun 1983 dia dipercaya untuk setiap tahun  mengajar di University of California di Berkeley. Tak berapa lama menjadi korban AIDS, Foucault meninggal di Paris pada tanggal 25 juni 1984. Selain itu untuk mempublikasikan hasil kerja semasa hidupnya, dosennya di Collège de Francemengumumkannya sebagai anumerta yg berisikan penjelasan penting dan kelanjutan pemikirannya.

Sangat sulit jika berfikir tentang Foucault sebagai seorang filosof. Susunan akademiknya di psikologi dan sejarahnya sama banyak dengan di filosofi, bukunya sering kali berhubungan dengan sejarah medis dan pengetahuan sosial, semangatnya terhadap sastra dan politik. Foucault paling dikenal dengan penelitian tajamnya dalam bidang institusi sosial terutama psikiatri, kedokteran,ilmu kemanusiaan, dan sistem penjara dan karya-karyanya tentang sejarah. Pada tahun 1960an foucault sering diasosiasikan dengan gerakan strukturalis. Foucault kemudian menjauhkan dirinya dari gerakan pemikiran ini, meski sering dikarakteristikan sebagai seorang posmodernis Foucault selalu menolak label posstukturalis dan posmodernis.

Foucault menolak dirinya dimasukkan dalam jajaran pemikir strukturalis, tetapi beberapa karyanya lahir di tengah-tengah masa jaya strukturalisme dan di dalamnya dapat ditemukan kemiripan pemikiran dengan tokoh-tokoh strukturalisme lainnya. Harus diakui bahwa pemikiran Foucault berkembang dan mengalami perubahan, namun tetap saja strukturalisme masih membayanginya.

 

PEMIKIRAN TOKOH

A.    Michel Foucault dan Postmodernisme

Tulisan karya Michel Foucault banyak berisikan tentang topik yang tidak hanya sesuai dengan tema dari sosiologi kontemporer, tetapi juga menyeluruh ke dalam lingkup kehidupan sehari-hari. Topik ini menjangkau semua aspek dari volume seksualitas, kegilaan, penjara, rumah sakit, dan pengetahuan untuk kesusastraan, seni dan pemerintahan. Foucault adalah seorang kritikus rasionalitas modern, ide liberal dari kebebasan dan pendahulu gagasan diri sendiri dan subjektivitas. Tulisan Foucault memperkenalkan metode baru dari teori dan tertantang setidaknya beberapa teori sosiologi klasik yang beranggapan tentang dasar pengetahuan. Foucault adalah pemikir yang sulit dan menarik, dia mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang masih diperdebatkan. Pengedaliannya terhadap wacana, analisa kekuatan dan sejarah pada konstitusi subyek modern mungkin diperdebatkan tetapi mereka tidak bisa menyangkalnya. Foucault mendeskripsikan bagaimana gagasan modern dari liberasi dan alasan yang pada akhirnya akan masuk ke dalam jenis pengetahuan dan mengubah institusional yang akan meningkatkan pengamatan, kontrol dan peraturan. Postmodernisme telah menjadi perdebatan yang panas di dalam ilmu sosiologi. Postmodernisme merupakan sebuah pendekatan ke masyarakat kontemporer yang berbeda dari struktur sebelumnya. Para penganut Postmodernisme terkenal dengan keanekaragaman dan ketidaksinambungan, mereka lebih suka seperti itu daripada keseragaman dan linear. Penganut Postmodernisme menegaskan secara kontekstual dan menyanggah tuntutan kualitas pengetahuan, mereka mengusulkan bahwa pencarian dasar kebenaran dan pengetahuan dikaburkan kualitasnya. Postmodernisme seakan sebagai pembeda antara budaya yang tinggi dan budaya populer. Sebagian penulis memandangnya sebagai sebuah keterkaitan antara peralihan penciptaan kapitalis dan Postmodernisme, dengan meningkatnya konsumsi, promosi dan keuangan kapital.

Postmodern dikenal sebagai gerakan pemikir dan bukan suatu teori tentang perubahan sosial, namun analisanya sangat kritis terhadap proyek modernisme. Michel Foucault adalah salah satu tokoh penting dan berpengaruh dalam gerakan Postmodernisme. Dia yang telah menyumbangkan teori kritik terhadap teori pembangunan dan modernisasi dari sudut pandang yang jauh berbeda dengan teori kritik lainnya. Gerakan Postmodernisme sangat melekat dan sejalan dengan pemikiran Foucault, sebagai contohnya pada tahun 1980 dia menuangkan pemikirannya ke dalam tulisan karyanya seperti The Order of Things, The Archeology of Knowledge, Dicipline and Punish, Language, Counter Memory, Practise, The History of Sexuality dan Power Knowledge. Sebagai contoh lain pemikiran Foucault yang utama adalah penggunaan analisis diskursus untuk memahami kekuasaan yang tersembunyi di balik pengetahuan. Analisisnya terhadap kekuasaan dan pengetahuan memberikan pemahaman bahwa peran pengetahuan pembangunan telah mampu melanggengkan dominasi terhadap kaum marjinal. Pemikiran Foucault tentang kontrol penciptaan diskursus dan bekerjanya kekuasaan (power) pada pengetahuan sangat membantu para teoritisi dan praktisi perubahan sosial untuk melakukan pembongkaran terhadap teori dan praktek pembangunan.

B.     Michel Foucault dan Strukturalisme

Strukturalisme adalah pendekatan yang melihat berbagai gejala budaya dan alamiah sebagai sebuah struktur yang terdiri atas unsur-unsur yang saling berkaitan dalam satu kesatuan (Piaget). Kaum strukturalis berpendapat bahwa praktik sosial yang nampak di masyarakat saat ini sebenarnya selalu didasari oleh stuktur dalam atau fundamental yang biasanya tidak terlihat beroperasi di bawah kesadaran manusia. Sehingga strukturalisme ditentukan oleh struktur tersebut dalam praktik sosialnya. Salah satu karya Foucault yang sangat dekat dengan strukturalisme adalah Les mots et les choses (1966) dan L’archeologie du savoir (1969). Karyanya tersebut Foucault diprediksi untuk mampu menjadikan srukturalisme sebagai filosofi baru bagi para filosof dan para intelektual Paris pada masa itu menggantikan eksistensialisme yang mulai surut. Karya Foucault tersebut dijadikan sebagai filosofi baru yang menyetujui pernyataan subjek tidak memaknai dunia melalui kebebasannya yang penuh dengan kecemasan seperti pemikiran kaum eksistensialis, tetapi subjek ditentukan oleh struktur dalam yang ada di balik kesadaran manusia. Kedua karya Foucault tersebut memperkenalkan istilahépistémè yang kemudian dapat dijelaskan sebagai sebuah struktur pengetahuan atau gagasan. Dalam Les mots et les choses (1966) Foucault melahirkan istilah épistémè yang secara sederhana dapat diartikan sebagai keseluruhan ruang bermakna, stratigrafi yang mendasari kehidupan intelektual, serta kumpulan prapengandaian pemikiran suatu jaman. Sebagai sebuah struktur, épistémè dapat dikenali dari salah satu sifat struktur yang disepakati oleh para pemikir strukturalis, yaitu totalitas. Dalam bukunya L’archeologie du savoir (1969) Foucault menjelaskan épistémè sebagai sebuah totalitas yang menyatukan, dalam arti mengendalikan cara kita memandang dan memahami realitas tanpa kita sadari. Menurut Foucault épistémètidak bisa dilihat atau bahkan disadari ketika kita ada di dalamnya, hal itu disebabkan oleh pandangan bahwa kita telah berada dalam épistémè yang berbeda ketika kita sadar akan épistémè yang mempengaruhi kita. Épistémè tidak bisa dilacak, tetapi dapat ditemukan dengan cara mengungkap “yang tabu, yang gila, dan yang tidak benar” menurut pandangan suatu jaman. Pada saat kita menemukan “yang tabu”, maka kita telah mengetahui sebelumnya “yang pantas”. Saat kita tahu “yang gila”, maka kita sebelumnya telah tahun mana “yang normal”. Demikian juga dengan “yang tidak benar”, saat kita temukan, berarti kita ada di dalam “yang benar”. Klasifikasi-klasifikasi itulah yang sepenuhnya didasari oleh épistémè suatu jaman. Oleh karena itulah Foucault sangat serius mendalami masalah kegilaan, seksualitas, dan kejahatan, karena melalui ketiga hal itulah dia bisa mengidentifikasi épistémè suatu jaman.

C.    Wacana dan Kekuasaan Menurut Foucault

Ketika Foucault menjelaskan épistémè dan mengungkap “yang tabu, yang gila, dan yang tidak benar” pada suatu zaman, dia memperkenalkan bagaimana kaitan antara wacana, pengetahuan dan kekuasaan secara jelas. Hal tersebut menggambarkan hubungan yang erat antara bahasa dan realitas. Bahasa di sini berarti adalah wacana yang merupakan pengetahuan yang terstruktur. Menurut Foucault, berbicara tentang wacana, berarti berbicara tentang aturan-aturan, praktik-praktik yang menghasilkan pernyataan-pernyataan yang bermakna pada satu rentang historis tertentu. Wacana menurut Foucault berkaitan erat dengan konsep kekuasaan. Konsep kekuasaan Foucault berbeda dengan konsep kekuasaan yang telah ada sebelumnya. Foucault mendefinisikan kembali kekuasaan dengan menunjukkan ciri-cirinya, bahwa kekuasaan itu tersebar, tidak dapat dilokalisasi, merupakan tatanan disiplin dan dihubungkan dengan jaringan, memberi struktur kegiatan-kegiatan, tidak represif tetapi produktif, serta melekat pada kehendak untuk mengetahui. Kekuasaan Foucault bukanlah milik tetapi strategi. Dalam hal ini Foucault tidak memisahkan antara pengetahuan dan kekuasaan. Tidak ada pengetahuan tanpa kekuasaan dan tidak ada kekuasaan tanpa pengetahuan.

 

Referensi

I.Bambang Sugiharto, Postmodernisme, Tantangan bagi Filsafat,Yogyakarta, Kanisius, 2000

Suma Riella Rusdiarti, Struktur dan Sifatnya dalam Pemikiran Michel Foucault, Jakarta, Universitas Indonesia, 2008

Stephen R.C.Hicks, Explaining Postmodernism, Skepticism and Socialism from Rousseau to Foucault, New York, Scholargy Publishing, 2004

Steven Connor, The Cambridge Companion to Postmodernism, New York, Cambridge University Press, 2004

http://ssantoso.blogspot.com/2007/08/pemikiran-michel-foucault-1926-1984.html

http://moeflich.wordpress.com/2007/11/24/konstruksi-pemikiran-michel-foucault-tentang-sejarah/

http://abstractive-sense.blogspot.com/2009/11/uraian-pemikiran-michel-foucault.html

http://plato.stanford.edu/entries/foucault/

 

Hits: 7

Fajar Fitrianto
News Reporter