Seiring berjalannya waktu, kini semakin marak terjadi pertengkaran sesama saudara gara-gara berebut pasangan. Parahnya lagi sampai saling membunuh demi seorang wanita ataupun pria. Padahal didalam islam, pertengkaran antara sahabat sangat dilarang karena akan menimbulkan banyak masalah dan akan memutus tali silaturahmi. Sehingga satu sama lain saling memusuhi dan saling membenci. Oleh karena itu, kami akan mendeskripsikan dan mengulas tentang hubungan persahabatan yang kami hantar dengan menggunakan cerpen berjudul “Aku Lebih Suka Kehilangan” karya Sakti Wibowo.

 

A.Review Cerpen

Cepen “Saya Lebih Suka Kehilangan” adalah cerpen karangan Arif Wibowo yang dimuat dalam sebuah majalah online DuniaKata.Com pada tahun 2008. Cerpen ini berisikan tentang menghormati teman dan pernikahan. Dicerpen ini, penulis merujuk pada suatu kejadian dijaman kenabian yakni ketika Abu Bakar dan Utsman menahan diri dari Hafshah karena keduanya mendengar Rasulullah pernah menyebut nama putri Umar bin Khathab.

Pada cerpen ini, penulis menggunakan bahasa yang tidak bertele-tele. Maksudnya, pembaca tidak akan dibawa kemana-mana dan tidak membahas yang tidak ada sangkutpautnya. Penulis menggambarkan pelataran suasana dan watak dengan jelas dan dideskripsikan diawal penceritaan.

Isi cerpen ini sangat dipengaruhi oleh kehidupan seorang muslim dimana sebagai seorang muslim harus menghormati muslim yang lain. Untuk lebih jelasnya, silahkan simak ulasan dibawah ini.

B.Sinopsis

Rusdi, pria paruh baya yang kehilangan sebagian hidupnya karena pernikahan yang ia bina 40 tahun yang lalu kandas ditengah perjalanan. Sungguh menyisakan sakit yang begitu mendalam bagi Rusdi dan mungkin tidak aka nada lagi kata pernikahan lagi yang ia jalani.  Ia tampak tampak kuyu karena didera problematkika yang telah ia jalani.

Singkatnya, di suasana pagi, dari paras Rusdi terpancar binar dari senyumannya yang merekah. Namun ia tidak begitu yakin dengan apa yang kini dia rasakan.

“Apakah Aku jatuh cinta?”

Rusdi tak begitu yakin dengan apa yang telah dia rasakan, kekecewaan yang dulu menimpanya dan membuatnya trauma.

Rusdi selalu berkata dengan perasaan pesimisnya dengan apa yang ia telah jalani dan merenung diri tentang nasibnya.

“Memang, terkadang tumbuh rasa sakit setiap mengingat anakku tidak bisa kuambil untuk

kurawat. Namun, paling tidak, aku bisa tumbuhkan sugesti bahwa suatu saat nanti aku akan

memiliki kesempatan berdekatan dengan si Kecil. Ia akan mengerti bahwa aku mencintainya, lewat

surat cinta yang selalu kukirimkan padanya bersama angin, bersama doa, bersama mimpi-mimpi.”

Datanglah perubahan pada Rusdi, ia berkata dengan karisma yang memancarkan kewibawaannya serta semangat barunya.

Ratih, seorrang Akhwat yang sedang Rusdi kagumi dan membuatnya bersemangat kembali. Bukan dari kecantikan Ratih yang membuat Rusdi kagum, melainkan dari kesederhanaan dan kedewasaannya.

Disisi lain, Eka, sahabat karib Rusdi dan tokoh saya, sedang menjalani masa ta’aruf dengan seorang akhwat melalui perantara. Dan akhhwat itu tiadalain ialah Ratih.

Setelah Eka tahu bahwa Rusdi sedang timbul kekaguman dengan Ratih. Eka membatalkan proses ta’arufnya demi sahabat karibnya.

Rusdi pun tahu bahwa Eka sedang ta’aruf dengan Ratih, Rusdi memegang erat tanganya Eka seraya berkata dengan gemetarnya.

“Alangkah bodohnya saya, alangkah butanya saya, dan… alangkah tidak-tahudirinya. saya jika itu saya lakukan. Sungguh, saya akan berhenti dengan perasaan saya.”

“Biarkan saya mengalah!, saya akan mundur dan saya sudah mentap dengan

keputusan saya. Saya hanya butuh waktu untuk mengendalikan perasaan.” Tambahnya.

Lantas, Eka menjawab

“Saya tidak mau jika engkau mundur hanya karena saya.”

Malam yang sangat dramatis.

Mata Rusdi mencari wajah Eka.

“Apa salahnya? Bukankah Abu Bakar dan Utsman pernah menahan

diri dari Hafshah karena keduanya mendengar Rasulullah pernah menyebut nama putri Umar bin

Khathab itu?”

Tokoh saya dalam cerpen berkata diluar situasi yang dramatis tadi.

“Alangkah… bersyukur menjadi saksi dari peristiwa menyentuh ini. Sungguh, betapa sulit saya dapati dimasa kini, persaudaraan yang begini erat! Kedekatan memang tidak mutlak dibentuk oleh lamanya orang saling mengenal-sebab yang saya tahu, Eka dan Rusdi belum genap satu bulan saling

mengenal- tetapi oleh kualitas semangat ukhuwah islamiyah di dalamnya.

Lantas, dalam konsep ukhuwah, tradisi itsar begitu ditekankan oleh sang qudwah, Muhammad.

Inilah itsar itu..”

C.Nilai-Nilai Kehidupan

Nilai kehidupan dalam cerpen ini memang tidak termuat langsung dalam cerpen, namun nilai ini tersirat dalam cepen ini.

Berikut beberapa nilai kehidupan yang ada dalam cerpen ini:

1.Lebih baik ta’aruf ketimbang pacaran.

2.Menyemangati kawan yang selalu didera berbagai problema kehidupan.

3.Menghomati tali persaudaraan dalam Islam.

4.Mengalah demi persahabatan.

5.Saling menghormati dan menghargai sahabat; dan lain-lain yang tidak bisa kami mengerti.

D.Konsep Persahabatan dalam Islam

Dari sinopsis diatas tepatnya dibagian terakhir, ada kejadian yang bisa kita ambil hikmahnya yaitu tentang  persahabatan. Dimana satu sama lain saling menghargai, menghormati, dan saling mengalah. Persahabatan yang semacam itulah yang dianjurkan dalam Islam. Bukan persabahatan yang ada jika butuh dan menghilang saat dibutuhkan.

Deskripsi sahabat secara umum adalah Teman yang salalu akrab dengan seseorang yang menciptakan suatu ikatan emosional sehingga sulit untuk dideskripsikan kecuali dengan perasaan. Deskripsi  sahabat menurut hasil diskusi kami; Sahabat adalah seseorang yang ada disamping kita yang ada ketika ia membutuhkan dan dibutuhkan, yang mau berbagi suka maupun duka, yang saling membantu, yang saling menghormati dan menghargai, yang saling percaya dan saling menjaga nama baik meskipun satusama lain memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda. Sedang deskripsi sahabat menurut Islam adalahUkhwah antara sesama akidah dengan memilik visi dan misi hidup yang sama yaitu meraih ridho Allah SWT.

Persahabatan dalam perjalan hidup pasti akan menjumpai berbagai macam masalah dan lika-liku pengalaman. Seperti pada permasalahan dalam cerpen diatas, dimana Rusdi mendapatkan semangat hidupnya dengan mengaggumi seorang wanita yang bernama Ratih, sedang Eka sedang menjalani proses ta’aruf dengan seorang akhwat yang tak lain adalah Ratih pula. Namun keduanya saling mengalah, dengan Eka mengundurkan diri dari proses ta’aruf demi sahabatnya dan Rusdi menyalahkan diri karena ia merasa telah menyukai orang yang sedang sahabatnya ta’arufi. Keduanya saling menghargai dan menghormati demi mejaga persaudaraan mereka. Hal semacam permasalahan yang terjadi didalam cerpen, harus didasari sebagaimana beberapa hadist dibawah ini:

“Sebaik-baik sahabat disisi Allah ialah orang baik terhadap temannya dan sebaik-baik jiran disisi Allah ialah jiran yang baik terhadap jirannya.”  (HR. al-Hakim)

Sahabat adalah satu tubuh, apabila satu anggota tubuh sakit maka akan menyebabkan anggota tubuh yang lain sakit pula.” (HR. Muslim)

Seorang muslim adalah saudara muslim yang lainnya, ia tidak mendzaliminya, merendahkannya, menyerahkannya kepada musuh, dan ia tidak menghinakaanya.” (HR. Muslim)

Berdasarkan pada tiga hadist diatas, terurailah makna sahabat yang kami telah deskripsikan diatas. Dimana untuk menjadi dan mencari seorang sahabat haruslah ada rasa saling menghormati, menghargai, saling berbagi baik suka maupun suka, saling membantu dan menjaga nama baik.

Tidaklah baik ketika bersahabat kita malah justru saling memusuhi bahkan saling menghina dan melecehkan satu sama lain. Didalam pancasila, dasar Negara kita juga terdapat sebuah poin penting dimana antara sesama manusia di Indonesia harus saling menghormati dan menghargai. Karena sesungguhnya persahabatan itu bukan untuk menhindar dari  perbedaan melainkan untuk menyatukan perbedaan tersebut.  Negara yang kita cintai ini juga berdiri karena adanya persatuan dari berbagai macam perbedaan. Dan atas dasar itulah maka ada semboyan “Bhineka Tunggal Ika”. Dan dalam persabatan juga demikian, perbedaan bukan menjadi penghalang melainkan untuk mencapai satu persatuan.

Dari sedikit penjelasan diatas, konsep persabahatan dalam Islam sangatlah sederhana, persabatan bukan hanya timbul dari persamaan tetapi juga dari perbedaan yang membuat kita harus semakin menghargai, menghormati dan saling berbagi permasalahan untuk mendapat penyelesaian dengan yang terbaik. Namun perlu diingat, janganlah sampai kita salah memilih sahabat karena ketika kita salah memilih sahabat kita justru akan mendapat masalah yang besar.

Diibaratkan teman yang shaleh dan teman yang jahat seperti berteman dengan penjual parfum dan tukang pandai besi. Penjual parfum tidak akan menyia-nyiakan kamu, meskipun kamu tidak membeli parfum namun kamu pasti akan mendapatkan harum parfumnya. Berbeda dengan tukang pandai besi yang bisa menyebabkan kamu berbau busuk, dan membuatmu terbakar karena terpecik bara dari proses pandaibesi.” (HR. al-Bukhari dan Musa al-Asy’ari). “Seorang itu  mengikuti pendirian sahabat karibnya. Karena itu hendaknya kita harus memperhatikan siapakah yang harus dijadikan sahabat” (Alhadist). Oleh karena itu, kita perlu memperhatikan faktor-faktor yang bisa gunakan untuk mencari sahabat yang baik. Bagaimanakah cara mencari sahabat yang baik?

Al-Qamah, seorang sahabat Rasulullah, menasihati anaknya

Wahai anakku, jika engkau merasa perlu untuk bersahabat, dengan seseorang, maka hendaknya engaku memilih seorang sahabat yang sifatnnya seperti:

1.   Pilihlah sahabat yang suka melindungi sahabatnya, dia adalah perhiasan kita dan apabila kita dalam kekurangan nafkah, maka dia akan membantu engkau dalam mencukupi kebutuhan.

2.   Pilihlah seorang sahabat yang apabila engkau mengulirkan tangan untuk memberikan bantuan, maka dia akan menerma bantuanmu. Dan ia akan menerima uluran kamu dengan penuh haru dan menganggapnya sangat  berguna dan akan menyebutkan kebaikanmu serta menyembunyikan keburukanmu.

3.   Pilihlah seorang sahabat yang apabila engkau meminta sesuatu kepadanya, dia akan memberinya. Apabila engkau diam, dia akan menyapamu terlebih dahulu. Apabila terlihat sesuatu kesukaran dan kesedihan  pada dirimu, maka dia akan membantumu dang menghiburmu.

4.   Pilihlah sahabat yang jikalau engkau bekata, ia akan membenarkan ucapanmu dan tidak mempercayainya begitu saja. Jikakalau engkau mengemukakan suatu persoalan yang amat berat, dia akan mengusahakannya. Dan apabila engkau berselisih dengannya, dia akan mengalah. 

Sufyan Astsaury berkata, “Siapa yang bergaul dengan orang banyak maka harus mengikuti mereka, dan siapa yang mengikuti mereka harus bermuka-muka mereka, dan siapa yang bermuka-muka mereka maka binasalah seperti mereka pula.” Oleh karena itu, maka bergaulah dengan orang yang shalih agar kita juga ikut mendapat kemuliaan seperti mereka. Dan oleh karena itu pula, berhati-hatilah atau tinggalkan saja teman yang memiliki sifat:

1.   Tamak: ia meminta sesuatu yang banyak, memberikan sesuatu yang sedikit, dan selalu mementingkan dirinya sendiri.

2.   Hipokrit: ia berusaha mendapatkan simapti/perhatian dengan omong kosong, dan jika ada kesempatan untuk membantu, ia menyatakan tidak sanggup.

3.   Pengampu: Setuju dengan apa yang kamu katakana tanpa memikir benar atau salah, dan parahnya apabila ia setuju dengan sesuatu hal yang ia tidak berani mejelaskan kebenarannya.Dihadapanmu ia memujimu namun dibelakangmu ia merendahkanmu.

4.   Pemboros dan suka hiburan: ia akan menjadi temanmu hanya  jika kamu suka berpesta, suka ketempat hiburan yang tidak sepatutnya.

Ali bin Abi Thalib r.a. berkata,

“Sejahat-jahatnya teman adalah yang memaksa kamu bermuka-muka dan memaksamu untuk meminta maaf atau selalu mencari alasan. Kalau kamu sekiranya berbuat kekeliruan, maka kamu akan ditampakan kepadamu segala kebaikan yang sebenarnya tidaklah bai, oleh karena kamu bersahabat dengan orang yang rendah akhlaknya. Dan sebaik-baik teman ialah ia yang tidak menuruti hawa nafsunya.”

 

 

Referensi

Wibowo, Sakti. 2008. ”Saya Lebih Suka Kehilangan” dalam majalah Dunia Kata: DuniaKata.Com

www.arenasahabat.com/2013/05/makna-arti-sahabat-sejati-dalam-islam.html

www.facebook.com/UkhwahFirdausiAnisa/posts/380443178739964

 

Hits: 1

Fajar Fitrianto
News Reporter